“Engkau.”, yang belum datang namun akan kembali

Langit senja kala itu tak berbeda seperti sekarang. Aku termenung seakan menunggu tanda datangnya gelap. Bias cerita masa lalu seolah terdengar dan tampak nyata di hadapan, mungkin rindu itu lagi yang terasa. Aku bisa mencium aroma kenangan itu, samar namun terasa penuh harapan. Cerita tentang harapan dalam lamunan tengah malam yang acap kami lakukan saat itu. Biarlah kali ini aku tenggelam menikmatinya. Harapan, rindu, dan ketidakpastian biarlah semuanya menjadi satu dalam sensasi yang bisa kunikmati. Bukankah rindu selalu membuat kita ingin kembali? Lalu dibalut harapan yang tidak akan pernah membuat kita lelah untuk mengejar yang tidak pasti. Dan sungguh Aku tidak pernah menginginkan kepastian, maka jangan pernah menungguku. Bagiku adalah hal yang nyata untuk berburu pelangi hingga Ia muncul dalam genggaman. Aku selalu berjalan untuk mencari tanda itu, walau kadang Aku berhenti sejenak untuk segelas kopi sore dari balik jendela tua kamar ini. Rumah ini terasa sepi tanpamu, tapi kenangan dan harapan itu selalu menghangatkan tiap sudut ruangnya. Kuharap ini akan selalu sama dan biarlah hanya kebaikan yang dapat mengubahnya menjadi lebh indah.

Salam rinduku untukmu selalu.

 

Teruntuknya, “Hilang Merampang.”

Amarah mungkin terlalu lama terpendam. Panasnya seperti bara rokok musim dingin, menyala tapi tak berasa. Dalam sedihnya dia tak menangis, dia mengadu dalam diam, menyumpah dalam dinginnya musim saat itu. Dia sesekali menatap langit-langit, lalu menatap tembok yang hanya diterangi sinar lampu meja. Cahaya adalah harapan yang dia pernah tahu, namun terangnya hampir hampir tidak memberikan perbedaan dalam gelap. Dia terluka, mungkin cukup dalam, mungkin cukup lama, mungkin cukup untuk semua alasan baginya untuk tetap diam atau lumpuh. Tidak ada akhir yang bisa diraba, seolah dia terlahir tanpa awal. Mungkin dia telah lupa, mungkin dia terlalu lelah, mungkin dia yang sudah tersingkir dan tak akan kembali. Hidup ini terlalu panjang baginya, terlalu banyak dengki di benaknya, telalu sedikit senyum yang bisa dibagikan. Dia tenggelam dalam air mata yang tak tumpah, sesak tertimpa dendam dalam hembusan paru-paru yang menghentak keras rusuknya. Seandainya saja dia tahu, seandainya saja dia bisa kembali, maka cukuplah semuanya untuk diakhiri, cukuplah semuanya untuk menjadi peringatan kelak.

Udah Ngapain Aja Lo?

Ga kerasa banget kalo hidup ternyata lebih cepet dari yang seharusnya. Gw bisa inget banyak hal yang rasanya kaya baru kemaren dilakuin. Dan begitu gw coba hitung ternyata udah lewat hampir 15 tahun. Jeda waktu 15 tahun jelas ga sebentar, kadang hal seperti itu yang membuat gw merasa lebih tua dari pada waktu. Banyak yang bikin perasaan gw jadi aneh ketika gw nyoba inget balik apa aja yang udah gw capai selama ini, seenggaknya selama 15 tahun terakhir aja deh. Hmm, dengan jujur gw katakan tampaknya lebih banyak yang hilang daripada yang dicapai. Ok, coba biar gw ingat-ingat lagi dalam bentuk poin-poin yang akan gw tulis berikut:

  1. Aneh ga sih kalo gw bilang pertama gw kuliah gw masih pake disket 3.5” yang kapasitas 1.44 MB dan begitu lulus gw udah pake flash disk 8 GB. Kebayang ga tuh artinya berapa lama gw bisa selesai studi? Ok, to the point aja ya.. 11 taun coy.. Gw pertama kuliah taun 2001 lulus taun 2012 dan jangan pernah nanya kenapa gw ga di DO.
  2. Ok, yang selanjutnya adalah penyakit anak muda yang maksa pengen jadi musisi. Seinget gw ini adalah hal no. 2 terbesar untuk waktu gw yang pernah hilang. Let say 4 taun ditambah 2 taun, alhasil 6 taun total waktu hilang plus duit tekor. Nah, lucunya temen-temen band gw udah pada jadi orang semua, tinggal gw doang yang ngeblangsak.
  3. Pernah ga lo ngebayangin setaun penuh hidup di kamar? Ya bukan sepenuhnya tinggal di kamar ga keluar-keluar juga, cuma aja siklusnya 20 jam di kamar, sisanya buat aktivitas makan minum ama beli kopi sachet ke warung. Well, 20 jam di kamar ternyata ga menghasilkan apa-apa juga kecuali pikiran-pikiran semi idealis dan kurang rasional.
  4. Dalam pekerjaan, gw termasuk cukup beruntung karna begitu lulus gw cuma nganggur 3 bulan. Untuk freshgraduate umur 29 tahun itu bisa dibilang mukjizat bisa dapet kerja di perusahaan asing besar dengan gaji yang juga bisa gw bilang diatas rata-rata. Cumaaa, nah selalu ada cuma nya.. begitu beres setaun gw ga diangkat sebagai pegawai tetap karna jumlah absen dan waktu telat gw yang sedikit luar biasa. Baiklah, sekali lagi waktu 1 tahun habis tanpa tabungan dan hanya ada warisan hutang credit card dari fasilits belanja instalment.

Kurang lebih itu hal-hal besarnya, walau masih banyak hal lain yang ga akan beres kalo musti gw sebut semuanya. Tapi dari semua yang gw tulis, seenggaknya lo semua pasti berpendapat sama, “What a wasted life.”, and I agree for those who think that way. Hmm.. baiklah.. cukup segitu gw rasa tanggapan lo semua, namun gw yakin lo akan memberi tanggapan lebih parah kalo lo tau apa pemicu semua itu. Guess what? It all started because of a girl. Hahahaha, bukan dalam artian gw bilang cewe selalu bawa masalah buat hidup cowo, cuma aja itu fenomena klise dan cukup umum secara realita. Satu pesan moral dari semua keterlambatan gw untuk sadar adalah, apa yah? Ya apapun itu lo bisa ambil sendiri kesimpulannya lah. Jangan bego bego banget kaya gw, salah salah bisa jadi lo yang selanjutnya jadi penerus gw, hahahahahaha.